KEMBALI KE MASA “PERANG SHIFFIN” DAN MENANTI “AMUL JAMA’AH”

 sumber foto: https://www.pexels.com/photo/photography-of-people-riding-camel-during-sunset-2867769/

Akhir-akhir ini, kita dihadapkan pada “Perang Politik” menjelang pemilihan presiden April mendatang. Seperti yang telah kita ketahui, perebutan kursi presiden tahun ini benar-benar begitu sengit dan panas. Berbagai propaganda,  perdebatan, hingga fanatik pilihan membuat masyarakat Indonesia terpecah menjadi dua kubu. Setiap hari pasti saja kita saksikan isu-isu politik yang memecah belah persatuan.

Bukan hanya itu, masyarakat yang sudah fanatik terhadap pilihannya berusaha mendoktrin masyarakat lainnya untuk memilih pilihannya, tentu saja ini masuk dalam pemaksaan, bukankah negara kita adalah negara demokratis yang memberikan hak pemilih untuk memilih sesuai hati nuraninya tanpa ada paksaan, juga bebas, aman dan rahasia.

Bolehlah jika ingin mempromosikan atau merayu masyarakat lain untuk memilih pilihannnya, asalkan masih masuk dalam kategori kampanye bersih. Tapi jangan sampai masyarakat yang sudah punya pilihan lain kita paksa untuk memilih pilihan kita, apalagi sampai memusuhi dan mencacimaki mereka jika tidak sama pilihannya. Layakkah kita manusia biasa yang penuh dosa memusuhi dan mencacimaki saudara kita sendiri hanya karena perbedaan pilihan?.

Tentu saja jawabannya adalah tidak!, bukankah dalam hadits rasulullah Saw bersabda bahwa “perbedaan umatku adalah rahmat”, ditambah semboyan negara kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu juga)”. Itu artinya, walaupun pilihan kita berbeda tetap tujuan kita sama untuk memilih presiden yang akan memajukan Indonesia, dan tentunya perbedaan pilihan dan pendapat yang ada diantara kita sebagai warna di hidup ini.

Melihat fenomena politik ini, mengingatkan saya pada peristiwa sejarah yang terjadi pada tahun 657 M yaitu “Perang Shiffin”, dimana perang ini terjadi di daerah Shiffin, antara Muawiyah bin Abi Sofyan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Awalnya perang ini dilatarbelakangi kekecewaan Muawiyah kepada Ali karena tidak segera menghukum mati pembunuh Khalifah Utsman bin Affan, tapi jika dicermati Muawiyah merasa terdesak posisinya sebagai Gubernur Syria yang kemungkinan besar akan dicopot oleh Ali sebagai Khalifah yang terpilih. Sehingga dari awal terpilihnya Ali sebagai khalifah, Muawiyah tidak pernah menyatakan dirinya memba’iat (mengakui) Ali. Sehingga sebelum perang Shiffin  terjadi, umat Islam sudah terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu pendukung Muawiyah dan kubu pendukung Ali.

Ketika perang Shiffin terjadi, Ali hampir memenangi pertempuran, namun Muawiyah segera mengakhiri pertempuran ini dengan mengajukan perdamaian (tahkim). Tahkim ini tidak seperti yang diharapkan, dari pihak Ali sendiri merasa dirugikan, hingga kubu Ali terpecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang tetap mendukung Ali dan kelompok yang keluar dari barisan Ali yang juga tidak menyukai kelompok Muawiyah. Begitulah dampak dari perang Shiffin, menimbulkan perpecahan di masyarakat khususnya masyarakat Islam, hingga dari sana timbullah aliran-aliran kalam yang kemudian berorientasi pada ideologi keagamaan, walaupun semula terbentuk karena unsur politik. (Siti Maryam, dkk. Sejarah Peradaban Islam; Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: LESFI, 2002).

Sungguh ironis memang, walaupun pemahaman keagamaan pada masa lalu begitu kuat dan lebih baik daripada sekarang, tetap saja terkalahkan oleh hasrat akan kekuasaan. Ternyata benar pepatah yang sering dikatakan dosen sejarah saya ketika di kelas, “Tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan pribadi”.

Dari sejarah “Perang Shiffin” itu, dapat kita lihat politik dan kekuasaan dapat menyebabkan perpecahan, seperti yang terjadi sekarang ini, perang politik pilpres telah menyebabkan masyarakat terpecahbelah dan tidak lagi menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa.

Karena pertarungan politik tahun ini seperti kembali ke masa “Perang Shiffin”, saya pun menjadi sangat mengharapkan dan menantikan “Amul Jama’ah” atau tahun persatuan. Dimana tahun persatuan ini terjadi empat tahun setelah peristiwa perang Shiffin, yaitu pada tahun 661 M. masih sama dengan alasan terjadinya perang Shiffin, hanya saja tahun persatuan ini terjadi atas inisiatif Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang menggantikan ayahnya Ali bin Abi Thalib yang mati terbunuh. Ketika Hasan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, Muawiyah kembali menghasut masyarakat untuk menggulingkan kepemimpinan Hasan, sehingga masyarakat kembali tercerai-berai. Namun, dengan kebaikan dan kebijaksanaan Hasan yang tidak ingin masyarakat terus berselisih dan terpecahbelah, akhirnya beliau hanya memimpin selama enam bulan dan menyerahkan kepemimpinan sepenuhnya kepada Muawiyah bin Abi Sofyan, juga mengajak masyarakat untuk kembali bersatu dan menjaga kesatuan dan persatuan dengan mendukung pemimpin baru, sehingga pada tahun itu, disebut “Amul Jama’ah” atau tahun persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan yang baru. (Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT Rajas Grafindo Persada, 2003).      

Mengaca pada sejarah “Amul Jama’ah”, saya pun berharap tahun ini menjadi tahun persatuan di Indonesia. Siapa pun yang terpilih, dapat menjadikan Indonesia lebih baik lagi dan masyarakat dapat kembali menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. Juga bagi pihak lawan tetap mendukung pemimpin yang terpilih dan menghargai setiap kebijakan positif yang dilakukan. Biarlah perselisihan yang terjadi di masa lalu menjadi jejak sejarah bangsa ini, dan tahun ini mari kita ukir jejak sejarah yang lebih baik, sehingga negara kita dapat menjadi negara “baldatun thoyibatun warabun ghafur (negeri yang subur, makmur, adil, aman, dan sejahtera)”.


*Pernah dimuat di nyimpang.com pada tanggal 01 Januari 2019

Komentar

  1. semoga Indonesia bisa terus menjungjung persatuan dan kesatuan

    BalasHapus

Posting Komentar