KARYA HERODOTUS DAN
TUCYDIDES
Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Terstruktur Mata Kuliah
Historiografi Umum
Dosen Pengampu: Drs. Fajriudin, M. Ag
Wahyu Iryana, M. Ag
Oleh :
Yulia
Dewi Hazimah 1145010142
JURUSAN SEJARAH DAN
KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ..ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... ..1
B. Rumusan Masalah................................................................................. ..1
C. Tujuan Penulisan................................................................................... ..1
BAB II PEMBAHASAN
A. Karya
Herodotus.................................................................................. ..2
B. Karya
Tucydides .................................................................................. 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Periode
Yunani, dalam aspek historiografi, berawal dari tatanan pemerintahan yang ada
saat itu. Para sejarawan Yunani, pada umumnya, berasal dari lingkungan yang
berada, atau secara material berasal dari kalangan masyarakat yang posisi
ekonominya baik. Sosok pribadi yang perlu dipahami, dalam kaitan dengan upaya
memahami sejarah Yunani adalah Herodotus dan Thucydides.
Karya-karya
mereka merupakan karya yang paling berharga dalam sejarah historiografi Yunani.
Herodotus, yang kemudian dikenal sebagai “Bapak Sejarah Dunia” telah melahirkan
karya yang fenomenal yaitu, The History of The Persian Wars dan Historia.
Sementara Tucydides, melahirkan karya besar yang berjudul, History of
The Pelopponesian War, Tucydides pun dikenal sebaagai “Bapak Sejarah
Kritis”.
Oleh
karena itu, dalam makalah ini akan dipaparkan tentang karya Herodotus dan
Tucydides.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Karya
Herodotus?
2.
Bagaimana Karya
Tucydides?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
Mengetahui Karya Herodotus
2.
Untuk
Mengetahui Karya Tucydides
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Karya Herodotus
Dalam
karyanya yang berjudul The History of The Persian Wars (Sejarah
Peperangan Orang Persia), Herodotus berusaha untuk melestarikan ingatan-ingatan
tentang apa yang pernah dikerjakan orang dalam peperangan antara Yunani
dan orang-orang Barbar itu- menurut istilah Herodotus. Ia juga merekam
apa penyebab permusuhan di antara keduanya. Dengan mengandalkan penglihatan,
pertimbangan, dan bakat penelitiannya yang sangat baik, Herodotus berhasil
menuliskan sebagian besar tentang sebab-sebab peperangan, jalannya peperangan,
dan kesudahan peperangan itu. Pada zaman Yunani Kuno, tradisi sejarah yang
hidup adalah tradisi oral- kisah atau cerita yang disampaikan dari mulut
ke mulut. Jadi, dalam rangka memasyarakatkan karyanya, Herodotus harus
membacakan karyanya kepada para pendengar di Thurii dan Athena.[1]
Dalam proses penelitian dan penulisan
karyanya, Herodotus mengikutsertakan para penulis sejarah, ahli-ahli ilmu
pengetahuan, ahli geografi, dan para filsuf. Tidak hanya itu, ia juga
mempertimbangkan dan menyaring dengan sangat hati-hati setiap laporan lisan
para saksi, dan kemudian ia menjelaskan apakah suatu laporan itu pasti benar,
mungkin benar atau tidak mungkin benar sama sekali. Ia juga menjelaskan
mengenai bukti yang ditemukannya, secara empiris, yang berkaitan dengan
pengaruh etnografis dengan biografis terhadap peristiwa sejarah dan
perkembangan-perkembangan sejarah. Menurut dugaan Kurt von Fritz, agaknya,
sebelum menjadi sejarawan, Herodotus merupakan seorang ahli geografi.[2]
Dalam karya sejarahnya, Herodotus juga
menyisipkan cerita-cerita berbau mitos, serta epik (syair kepahlawanan). Hal
ini ia lakukan bukan karena ia percaya akan kebenaran isinya, tetapi karena ia
menggambarkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh masyarakatnya. Hal itu ia
lakukan juga karena adanya anggapan bahwa masalah itu masih relevan dengan
sejarah. Menurut salah seorang pengagumnya, Herodotus mengetahui benar bahwa
cerita yang amat panjang akan membosankan telinga para pendengarnya, bila tidak
diselingi dengan cerita-cerita sisipan itu. Dalam hal ini, Herodotus meniru
gaya penulisan yang dilakukan oleh Homer. Itulah sebabnya, jika kita membaca
buku karya Herodotus, kita akan membacanya sampai suku kata terakhir; dan kita
akan selalu ingin membacanya lagi karena adanya dorongan rasa penasaran. Dalam
menggambarkan epic, Herodotus berusaha memberikan karakter untuk menghidupkan
ceritanya dengan pidato-pidatoyang seolah-olah telah pernah diucapkan oleh para
pelaku dalam cerita itu.[3]
Meskipun Herodotus seorang Yunani Ionia,
dalam The History of The Persian Wars, ia menyatakan bahwa kekuatan, kebebasan,
dan demokrasi orang-orang Athena berperan besar untuk dapat mengalahkan
orang-orang Persia. Ia menyatakan bahwa “orang-orang Athena adalah penyelamat
Yunani”. Selanjutnya, Herodotus mengisahkan tentang munculnya Kekaisaran Persia
di bawah pimpinan Cyrus, berikut kekalahan yang sangat memalukan dari Croesus
yang sombong. Tidak hanya itu, Cyrus juga berhasil melakukan penyerbuan ke
Yunani dengan mengerahkan banyak penduduk Persia sebanyak dua kali. Pertama, serbuan
di bawah pimpinan Darius pada tahun 490 SM. Kedua, serbuan di bawah pimpinan
Xerxes dan kekalahannya di Salamis pada tahun 480 SM, yang menyelamatkan Yunani
dari penaklukan. Sejak era ini, dimulailah masa keemasan Yunani.[4]
Pada bagian ini, Herodotus berharap dapat
mengabadikannya untuk generasi yang akan datang. Secara filosofis, Herodotus
bermaksud mengabadikan sejarah Yunani, khususnya orang-orang Athena. Lebih dari
itu, Herodotus juga sekaligus berusaha untuk melestarikan ajaran moral yang
diwujudkan dalam kemenangan kebebasan Yunani atas otokrasi orang-orang Persia.[5]
Ilmu pengetahuan, menurut Herodotus
mempunyai bentuk dan materi (isi). isi-materi ilmu pengetahuan berasal dari
pengalaman. Bentuk sebuah pengetahuan dianggap dari rasio. Pengetahuan berasal
dari akal manusia yang dituangkan menjadi sebuah pengetahuan. Filsafat
Herodotus dimunculkan dengan maksud membeda-bedakan antara pengenalan yang
murni dan pengenalan yang tidak murni, yang kepastiannya tiada jelas. Ia
berusaha keras untuk membersihkan pengenalan dari keterikatan kepada segala
penampakan yang bersifat sementara. Jadi, filsafatnya dipublikasikan dengan
maksud sebagai media penyadaran atas kemampuan rasio-objektif dan untuk
menentukan batas-batas kemampuannya dalam rangka memberi tempat kepada iman dan
kepercayaan.[6]
Metode yang digunakan Herodotus adalah
metode kritis. Metode ini mendasarkan diri atas nilai yang tinggi dari akal.
Namun, metode ini tidak mengingkari adanya batas-batas kemampuan akal. Metode
kritis Herodotus berusaha untuk dapat mencari dan menemukan unsur aprioris dari
sebuah pengetahuan yang menanyakan tentang “mengapa” dan “bagaimana” kepastian
dari suatu pengetahuan itu mungkin. Ia juga mendalami mengenai timbulnya
masalah, apakah pengetahuan yang lepas dari pengalaman, bahkan lepas dari
kesan-kesan pancaindera (pengetahuan apriori) itu sunguh-sungguh ada, atau
tidak. Masalah ini, menurut Herodotus, tidak perlu dijawab karena pertanyaan
ini tidak akan mungkin ada jawabannya.[7]
Apriori berarti “tidak bergantung pada
pengalaman inerawi”. Tidak hanya itu, Herodotus mengkritik empirisme. Ia
berpendapat bahwa empirisme harus dilandasi dengan teori-teori yang berasal
rasionalisme sebelum ia dianggap sah melalui proses epistimologi.[8]
Dalam kaitan itu, Herodotus berusaha untuk
menunjukkan adanya proposisi dari jenis yang sangat umum, yang merupakan bagian
dari filsafat. Seorang filosof harus dapat menegaskan tentang sifat
independennya dari pengalaman. Herodotus berpendapat bahwa pengetahuan yang
proposisi merupakan hasil dari dorongan positif yang kuat untuk menyelidiki
kejadian empiris yang pernah terjadi. Pengetahuan tentang proposisi dalam
proses sejarah harus mendorong sejarawan untuk dapat melakukan studi yang lebih
mendalam sebagaimana keyakinan seseorang bahwa pasti ada jalan keluar yang
dapat diperoleh.[9]
Ajaran Herodotus biasa disebut kritisme
karena ia menggunakan metode kritis. Lebih dari itu, Herodotus juga mendasarkan
diri atas nilai yang tinggi dari akal. Namun, Herodotus tidak mengingkari
adanya batasan-batasan kemampuan akal untuk mengkritik sesuatu. Baginya,
kritisme dapat menjadi media untuk mencari dan menemukan unsur aprioris dari
sebuah pengetahuan melalui pengajuan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”
tentang nilai pasti suatu pengetahuan yang mungkin.[10]
Prinsip Herodotus dalam sejarah adalah
prinsip materi. Dia menyatakan bahwa, pada prinsipnya, proposisi empiris dan
sebagai kebenaran, itu sangat diperlukan dalam arti umum. Kausalitas, bagi
Herodotus, bukan hanya suatu kebenaran yang diperlukan, tetapi lebih memerlukan
kritik. Kritik pertama adalah regulatif-heuristik yang berguna untuk menuntut
atas penelitian empiris. Penulisan sejarah didasarkan pada jenis yang ada dalam
pikiran, didukung oleh pengetahuan yang luas tentang fakta-fakta sejarah.[11]
Menurut Herodotus, ada dua unsur yang memberi
sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Pertama, materi
pengetahuan, yaitu kondisi-kondisi lahiriah ruang dan waktu yang tidak dapat
diketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera. Ruang dan waktu itu berupa
cara pandang, bukan atribut dunia fisik. Kedua, bentuk pengetahuan, yaitu
kondisi-kondisi batiniah dalam diri manusia untuk memahami proses-proses yang
tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan.[12]
Herodotus berpikir bahwa tidak hanya pola
yang ada dalam sejarah, tetapi lebih jauh dari itu bahwa ia menjadi bagian dari
jenis tertentu. Jika sebuah sejarah berupa sesuatu yang tampak seperti
kepercayaan dalam pemeliharaan ilahi itu dilarang, maka, keyakinan atau sesuatu
yang seperti itu sangatlah penting jika seseorang ingin menjalani kehidupan
yang bermoral. Dalam hal ini, tugas seorang filsuf tentang sejarah adalah
menunjukkan bahwa sejarah merupakan proses rasional, yaitu melanjutkan rencana
yang dapat dimengerti, dan cenderung pada tujuan yang disetujui oleh alasan
moral.[13]
Herodotus
melukiskan perkembangan sejarah alam dari organisme yang paling sederhana
sampai perkembangan kehidupan manusia. Herodotus mengatakan bahwa pengalaman
kita berada dalam bentuk-bentuk yang ditentukan oleh perangkat inderawi.[14]
Sejarah,
menurut Herodotus, merupakan resultan dari interaksi kedua kekuatan, yaitu
kekuatan eksternal dan kekuatan internal dari manusia. Filsafat sejarah menurut
Herodotus, melukiskan optimisme pencerahan bahwa sejarah secara linear
menghasilkan kemajuan-kemajuan bagi kesejahteraan umat manusia. Melalui
filsafat sejarah pula emansipasi manusia dari segala bentuk kebodohan dan
takhayul dapat dibentuk dan dibangun menjadi lebih baik.[15]
Objek material filsafat sejarah kritis
adalah ilmu sejarah, sementara objek formalnya adalah cirri konseputal, logis,
dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada dasarnya, filsafat sejarah kritis selalu
menitik-beratkan pada data. Melalui sejumlah data dan fakta akan terungkap
segala hal yang bersangkutan dengan kenyataan sejarah. Sementara itu, dalam
filsafat spekulatif, jika sejarah an sich dijadikan sebagai sebuah
konsep bangun ilmu, linieritas dan siklisitas sejarah selalu memuat gerak
sebuah peristiwa.[16]
Herodotus menjelaskan bahwa metode sejarah
kritis mengkaji peristiwa sejarah yang benar-benar dapat dipercaya atau diakui
kebenarannya (valid), yaitu peristiwa-peristiwa yang menyandarkan pada strictly
primary sources (sumber-sumber primer yang kuat). Sumber primer yang
dimaksud adalah sumber atau penulis sumber yang menyaksikan sendiri (eye-witness),
mendengar sendiri (ear-witness), atau mengalami sendiri (the actor)
sebuah peristiwa yang ditulis dalam sebuah sumber. Tapi, satu sumber primer
yang kuat juga belum cukup. Sumber primer tersebut harus didukung oleh
sumber-sumber lain yang “bebas” dan tidak saling mempengaruhi untuk menemukan
dukungan penuh kuatnya sebuah fakta. Metode ini disebut metode korbosari.[17]
Sejarah, dalam pemikiran Herodotus, harus
dihubungkan dengan metode arkeologi dan geneonologis. Pengertian “arkeologis”
di sini bukan sesuatu yang berhubungan dengan geologi-ilmu tentang lapisan
tanah; juga tidak berhubungan dengan geneologi-asal mula dan sebab akibat.
Arkeologi di sini didefinisikan sebagai eksplorasi sejumalah kondisi historis
nyata dan spesifik yang didalamnya ada upaya pengombinasian dan pengaturan
berbagai pernyataan untuk membentuk atau mendefinisikan sebuah bidang
pengetahuan (objek) yang terpisah, serta untuk mensyaratkan adanya seperangkat
konsep tertentu dan menghapus batas rezim kedalaman tertentu. Arkeologi menekankan
pada penggalian (ekskavasi) masa lalu di tempat tertentu. Arkeologi digunakan
untuk menguji arsip, yaitu sistem-sistem yang pernah memantapkan
statemen-statemen, baik sebagai peristiwa-peristiwa maupun sebagai sesuatu yang
bersifat material.[18]
Herodotus menyebutkan bahwa ada empat
prinsip metode arkeologi yang dapat membedakannya dari sejarah pemikiran:[19]
a.
Sejarah
pemikiran mendekati suatu wacana dengan berperang pada dua kategori, yaitu yang
lama dengan yang baru, yang tradisional dengan yang orisinal, yang biasa dengan
yang luar biasa.
b.
Sejarah
pemikiran mengenal dua kontradiksi, ada kontradiksi yang hanya tampak di
permukaan, dan ada pula yang menyangkut fundamen suatu wacana.
c.
Analisis
arkeologi menyangkut perbandingan antara satu praktek diskursif dengan praktik
diskursif yang lainnya, atau satu praktek diskursif dengan praktik
nondiskursif.
d.
Analisis
arkeologi melukiskan proses perubahan, tetapi tidak menjelaskan perubahan
sebagai penemuan baru.
Bagi Herodotus, setiap
objek historis yang berubah tidak boleh ditafsirkan dalam perspektif yang sama.
Diskursus senantiasa bersifat diskontinu. Pemahaman Herodotus dibuktikan dengan
kenyataan bahwa selalu saja terjadi keterputusan historis antara cara suatu
objek dikonseptualisasi dan dipahami. Asumsi kontinuitas sejarah, menurut
Herodotus, merupakan hasil subjek historis ilmuwan dan masyarakat. Pemutasan
merupakan cara penghapusan subjek itu sendiri. Menurut Herodotus, pemutasan
subjek akan berbahaya karena akan menggiring kita pada dominasi dan
otoritarianisme.[20]
Di lain sisi, Herodotus
mendifinisikan geneanologi sebagai antitesa kecenderungan pencarian asal usul
yang bersifat alpha-omega. Geneanologi ditujukan untuk melawan penulisan
sejarah dengan metode tradisional. Geneanologi bukan mencari asal-usul, tetapi
menelusuri awal dari pembentukan diskursus yang dapat terjadi kapan saja. Tugas
geneonologi, menurut Herodotus, adalah menghancurkan doktrin-doktrin tentang
kemajuan, perkembangan kebenaran, menuju finalitas akhir dan esensi yang
sifatnya fixed. Setelah terjadi penghancuran, yang tersisa hanyalah
permainan-permainan kehendak akan kuasa (penundukan, dominasi, perseteruan).
Dampaknya, geneanologi harus menemukan hubungan-hubungan kuasa yang bekerja
dalam peristiwa-peristiwa tertentu, gerakan-gerakan historis, dan dalam sejarah
itu sendiri.[21]
Geneonologi mengambil
bentuk berupa pencarian kontinuitas dan diskontinuitas dari diskursus.
Herodotus tidak menggunakan verstehen (pemahaman), tetapi destruksi dan
pembongkaran hubungan-hubungan historis yang disangka ada antara sejarawan
dengan objeknya.[22]
Apa yang dipaparkan
Herodotus tentang pengujian arsip sudah sejalan dengan metode pengkajian
sejarah kritis melalui penahapan heuristic (pengumpulan data), kritik
(internal dan eksternal), analitik, dan historiografi. Menurut Herodotus,
sistem pemikiran seperti itu disebutnya sebagai ‘episteme’, yaitu
kondisi yang memungkinkan munculnya pengetahuan dan teori dalam satu masa
tertentu. Istilah “episteme” merujuk pada pengandaian, prinsip,
kemungkinan, dan cara pendekatan tertentu yang dimiliki setiap zaman dan
membentuk suatu sistem yang kokoh. Karena itu, arkeologi seharusnya
memperlihatkan konfigurasi dari bidang pengetahuan yang telah muncul, yang
berbeda dari pengetahuan yang empiris atau ekslisit.[23]
Metode yang digunakan
oleh Herodotus, jika diterapkan dalam kajian sejarah, akan membawa konsekuensi
tertentu. Sebaliknya, penekanan pada kontinuitas akan semakin ditinggalkan.
Sejarah konvensional, yang dibentuk oleh perkembangan kesadaran atau diarahkan
oleh suatu akal budi, sebagai evolusi pemikiran manusia, akhirnya, akan
terpatahkan oleh diskontinuitas yang ada. Pemikiran Herodotus sejalan dengan
sejarawan Mazhab Annals yang menjelaskan sejarah atas dasar konseptual. Jika
dulu sejarah dipaparkan dengan penakanan pada kontinuitas, di mana sesuatu
berjlan secara linier dan evolutif, untuk saat ini, yang terjadi justru
sebaliknya, yaitu pemaparan diskontinuitas.[24]
Herodotus mengemukakan
sebuah konsep ‘diskontinuitas sejarah’ yang menolak pandangan continous
history. Menurut Herodotus, beragam peristiwa sejarah (fakta) dihimpun
menjadi momen-momen dan individu-individu sebagai satu kesatuan yang sangat
besar. Herodotus melakukan analisis dengan cara memisahkan masa kini dan masa
lampau. Untuk tujuan itu, ia menunjukkan perbedaan sifat yang mendasarkan
antara kedua masa tersebut. Diskontinuitas di antara kedua masa itu terlihat
jelas melalui pengajuan prinsip perbedaan (principle of difference).[25]
Herodotus juga lebih
tertarik pada momen atau kejadian-kejadian biasa, atau peristiwa yang kecil dan
ringan, atau pinggiran yang umumnya diabaikan oleh ahli sejarah. Herodotus
meninggalkan analisis sejarah tradisional karena ia lebih mempertanyakan strata
dan peristiwa mana yang harus diisolasi dari yang lainnya.[26]
Ketika pemikiran
Herodotus muncul, tema-tema total history mulai menghilangkan dan
digantikan oleh general history. Padahal, pendekatan ini lebih banyak
berbicara tentang seri-seri, segmentasi-segmentasi, batas-batas, perbedaan
tingkatan, anakronistis-anakronistis, dan kemungkinan jenis-jenis relasi.
Herodotus juga memunculkan keterkaitan antara kuasa dan pengetahuan dalam
sejarah. Kedua hal tersebut beroperasi sebagai sebuah model yang saling
menunjang dan saling menghubungkan secara internal.[27]
Dalam pemikiran sejarah,
Herodotus lebih fokus untuk melihat sejarah masa kini daripada masa lampau;
meskipun, sesungguhnya, pemikiran filsafat sejarahnya itu tidak menggambarkan
perhatian Herodotus secara menyeluruh.[28]
Perkembangan pemikiran
sejarah yang telah menapaki pengkajian sejarah kritis rupanya sejalan dengan
apa yang dipaparkan Herodotus. Tuntutan zaman, saat ini, tidak lagi bisa
menghadirkan sejarah hanya sebagai rangkaian cerita kronologis, tetapi perlu
keulutan dan kerja keras untuk mewujudkan
apa yang disebut sebagai kajian sejarah kritis. Sejarah yang muncul
bukan lagi yang bersifat universal, tapi lebih fokus kepada hal-hal yang
bersifat lokal dan unik.[29]
Adapun karya besar
Herodotus adalah Historia (Histories), yang terbagi menjadi
Sembilan buku, masing-masing dinamai sesuai dengan nama putri-putri Zeus. Kelima
buku pertama menjabarkan latar belakang peperangan Yunani-Persia tahun 499-479
SM. Empat buku yang terakhir berisikan sejarah peperangan itu, yang berpuncak
pada penyerbuan Yunani oleh pasukan besar Persia yang dipimpin Raja Xerxes.[30]
Herodotus mungkin
dikenal sebagai “Bapak Sejarah”, namun ada juga yang menjulukinya “Bapak
Dusta”. Ini karena dalam tulisan sejarahnya, sering diselepi mitos Yunani,
seperti semut raksasa pemakan manusia. Namun, Herodotus juga menerapkan
menerapkan metode penulisan sejarawan, seperti membandingkan sumber-sumber
sejarah dengan yang lebih akurat, juga tidak bias kepada bangsa Yunani juga
bangsa-bangsa lain. Ia juga seorang pencerita andal yang mampu menghidupkan
tokoh protagonisnya, juga memberikan pidato dan dialog yang mengilhami, dan
seringkali melantur dengan anekdot yang menghibur untuk menggambarkan karakter.
Bakat ceritanya inilah, yang dipadukan dengan kemampuan untuk melihat gambaran
umum yang luas, yang menjadikan Herodotus sejarawan pertama yang terhebat.[31]
B.
Karya Tucydides
Sumbangan
Thucydides terhadap historiografi terletak di bidang kritik dan metodologi.
Karena kritiknya yang sangat cerdas itu, Thucydides kemudian disebut sebagai
“Bapak Sejarah Kritis”.[32]
Thucydides
meyakini bahwa nilai-nilai praktis sejarah adalah diposisikan sebagai sumber
keteladanan. Menurutnya, pengetahuan yang akurat tentang sesuatu yang telah
terjadi akan sangat berguna karena hal-hal serupa akan terjadi lagi. Masih
menurut Thucydides, ia menulis dengan kebenaran yang nyata. Hal yang harus
diingat adalah Thucydides mengenalkan premis-premis metodologi sehingga ia
disebut sebagai sejarawan.[33]
Tulisan
sejarah Thucydides seolah ingin menunjukkan kepada umum bahwa konsep dari
karyanya menyatakan prinsip yang diatur dalam komposisi yang dinamis. Perang
Peloponnesian merupakan perang terbesar yang pernah mengguncang orang Yunani,
yang juga meluas ke sebagian orang Barbar. Orang pun mengatakan bahwa perang
ini adalah guncangan terbesar bagi kebanyakan manusia. Ia juga menyatakan bahwa
tulisan Herodotus dan Homerus menjadi literature dalam karya sejarahnya.[34]
Perang
Peloponnesian merupakan perang antara orang-orang Yunani dengan Sparta yang
berlangsung sekitar 431-404 SM. Thucydides membeberkan alasan terkejam
terjadinya Perang Peloponnesian, yaitu ekspansionisme Athena. Menurutnya, ada
perbedaan antara Athena dan Sparta. Athena merupakan Negara yang memiliki
kekuatan bahari. Armada laut Athena yang membebaskan Ionia dari kekuasaan
Persia. Perang terjadi ketika Athena meluaskan pengaruhnya di negara yang
termasuk liga Peloponnesian dan memiliki konflik dengan Corinth mengenai
Corrycra.[35]
Thucydides
juga memiliki beberapa kekurangan, sebagai berikut:[36]
a)
Ia tidak
sepenuhnya mampu memegang konsep waktu atau memandang fakta-fakta dalam
perspektif sejarah.
b)
Ia tidak
memiliki apresiasi yang kuat terhadap nilai penting faktor-faktor geografi
dalam sejarah.
c)
Ia terlalu
membatasi kajian sejarah di bidang politik diplomasi dan militer yang bersifat
eksternal.
d)
Ia mengabaikan
signifikasi kekuatan-kekuatan kultural, sosial, dan ekonomi dalam proses
sejarah. Kisah sejarah politik yang disusun tidak di eksplorasi lebih lanjut
keterkaitannya dengan berbagai hal yang bersifat nonpolitik.
Thucydides memiliki beberapa perbedaan dengan Herodotus, Thucydides
dimasukkan dalam sejarawan politik, sedangkan Herodotus dikelompokkan dalam
sejarawan kebudayaan. Thucydides memiliki pengaruh besar dalam membawa
historiografi di bawah dominasi politik sampai akhir abad 19. Selain itu,
Thucydides tidak pernah menggunakan cerita rakyat seperti Herodotus (The
Lier).[37]
Karya Thucydides yang dianggap sangat penting adalah karya
monumentalnya yang berjudul History of The Pelopponesian War (8 jilid).
Yaitu:[38]
1)
Jilid satu
sampai empat membahas mengenai sepuluh tahun pertama Perang Peloponnesia,
Perang Achidamia, antara Athena dan Sparta, dan Perjanjian Damai Nicias pada
431 sampai 421 SM.
2)
Jilid kelima
membahas masalah penyelesaian konflik pada tahun antara 421 SM sampai 413 SM.
3)
Jilid enam dan
tujuh berisi upaya-upaya Athena untuk menaklukan Sicily pada 415 sampai 413 SM.
4)
Jilid delapan
mengungkap pendudukan Sparta terhadap benteng Decelea di wilayah Athena.
Karya Thucydides
terkenal karena ia menciptakan beberapa kemajuan besar dalam metode penulisan
sejarah. Yang pertama, Thucydides berusaha mencari fakta dari sumber yang
terpercaya, khususnya dari orang-orang yang menyaksikan langsung suatu
peristiwa. Yang kedua, Thucydides berupaya mencari tahu penyebab rasional
mengapa peristiwa tersebut terjadi, tanpa mengandalkan jawaban kepada agama
atau para dewa. Yang ketiga, Thucydides tertarik pada Perang Peloponnesia tidak
hanya karena perang itu semata, melainkan bahwa ia ingin menggunakan perang
tersebut untuk mencari tahu mengapa manusia melakukan tindakan tertentu.[39]
Walau bagaimanapun, Thucydides
bukanlah sejarawan yang sempurna. Ia terkadang menuturkan ucapan yang sangat
panjang yang tidak mungkin diucapkan oleh orang, meskipun mungkin ia mengetahui
kurang lebih apa yang dikatakan oleh sang penutur. Dengan demikian Thucydides
jelas-jelas menambahkan kalimat-kalimatya sendiri. Selain itu, tak seperti
Herodotos, Thucydides memandang sejarah hanya sebagai perkara politik dan
perang. Ia juga hampir tak pernah menuturkan sejarah wanita, sejarah ekonomi,
atau kemajuan ilmu pengetahuan.[40]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam karyanya yang berjudul The
History of The Persian Wars (Sejarah Peperangan Orang Persia), Herodotus
berusaha untuk melestarikan ingatan-ingatan tentang apa yang pernah dikerjakan
orang dalam peperangan antara Yunani dan orang-orang Barbar itu-
menurut istilah Herodotus. Ia juga merekam apa penyebab permusuhan di antara
keduanya. Adapun karya besar Herodotus adalah Historia (Histories),
yang terbagi menjadi Sembilan buku, masing-masing dinamai sesuai dengan nama
putri-putri Zeus. Kelima buku pertama menjabarkan latar belakang peperangan
Yunani-Persia tahun 499-479 SM. Empat buku yang terakhir berisikan sejarah
peperangan itu, yang berpuncak pada penyerbuan Yunani oleh pasukan besar Persia
yang dipimpin Raja Xerxes.
Karya Thucydides terkenal karena ia
menciptakan beberapa kemajuan besar dalam metode penulisan sejarah. Yang
pertama, Thucydides berusaha mencari fakta dari sumber yang terpercaya,
khususnya dari orang-orang yang menyaksikan langsung suatu peristiwa. Yang
kedua, Thucydides berupaya mencari tahu penyebab rasional mengapa peristiwa
tersebut terjadi, tanpa mengandalkan jawaban kepada agama atau para dewa. Yang
ketiga, Thucydides tertarik pada Perang Peloponnesia tidak hanya karena perang
itu semata, melainkan bahwa ia ingin menggunakan perang tersebut untuk mencari
tahu mengapa manusia melakukan tindakan tertentu.
DAFTAR
PUSTAKA
Simon Sebag Montefiore. 2013. Pahlawan Dalam Sejarah Dunia. Jakarta:
Erlangga.
Wahyu Iryana.
2014. Historiografi Barat. Bandung: Humaniora.
https://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Sastra/Thukydides. Diakses pada hari Selasa 20 September 2016 pukul 7.37 WIB.
[1]
Wahyu Iryana.
2014. Historiografi Barat. Bandung: Humaniora. Hlm 52.
[3] Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 53.
[4]
Ibid.,
[5]
Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 53.
[9] Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 56.
[10]
Ibid.,
[11] Ibid.,
[12]
Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 56.
[13] Ibid.,
[17] Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 59.
[19]
Ibid.,
[20] Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 61-62.
[21]
Wahyu Iryana. Op.
Cit. hlm 62.
[22]
Ibid.,
[23] Ibid.,
[24]
Wahyu
Iryana. Op. Cit. Hlm hlm 63.
[25]
Ibid.,
[26]
Ibid.,
[27]Ibid.
[28]Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 64.
[29]
Ibid.,
[30]
Simon Sebag
Montefiore. 2013. Pahlawan Dalam Sejarah Dunia. Jakarta: Erlangga. Hlm
15.
[31]
Simon Sebag Montefiore.Op.
Cit. Hlm 15.
[32] Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 49.
[33]
Ibid.,
[34]
Ibid.,
[35]
Wahyu Iryana. Op.
Cit. Hlm 50.
[36]
Ibid.,
[39] https://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Sastra/Thukydides.
Diakses pada hari Selasa 20 September 2016 pukul 7.37 WIB.
[40]
Ibid.,
Komentar
Posting Komentar