“Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian” (Qs Al-Anbiya:35)
Sumber foto:
https://www.pexels.com/photo/photo-of-airplane-with-smoke-trail-2088203/
Sejatinya manusia akan
mengalami kematian, dan tentunya kita harus mempersiapkannya dengan amalan yang
cukup. Tapi apakah kita pantas mengharapkan kematian hanya ketika kita sedang
mengalami kesulitan, putus asa, dan tak berharga?. Berharap pulang ke Mahakuasa
adalah cara yang terbaik?.
Dapat kita lihat belakangan ini, banyak orang-orang yang melakukan bunuh diri, seperti yang dilansir dari kaltimtoday.co (13/2/21), angka bunuh diri di dunia terus mengalami peningkatan, WHO pun mengatakan jumlah orang yang meninggal karena bunuh diri lebih banyak dibandingkan orang yang meninggal karena perang.
Setiap tahunnya angka bunuh diri mencapai 800.000
jiwa, angka ini belum termasuk kasus bunuh diri yang tidak tercatat. Alasan
orang melakukan bunuh diri sebagian besar karena tidak tahan dengan kehidupan
ini, dan memilih untuk pulang ke yang Mahakuasa.
Apa benar kita memang
harus menyerah dengan hidup ini?. Atau hanya fokus pada kepulangan kita?. Tentu
saja tidak. Ingatlah hadist nabi mengatakan, “Hiduplah seakan-akan kau akan mati esok, dan berusahalah seakan-akan
kau akan hidup lama,” itu artinya kita harus menseimbangkan hidup dunia dan
mengumpulkan bekal untuk akhirat, dan teruslah berusaha meskipun kamu terjatuh
kamu harus bangkit lagi dan anggaplah kamu akan hidup lama untuk terus berjuang
menggapai mimpimu.
Ketika kita mengalami kegagalan dalam hidup, coba kita tenangkan dulu pikiran, mulai intros peksi mungkin ada langkah yang terlewat, atau ada langkah yang kurang maksimal. Seperti kisah pendiri waralaba ayam goreng yang terkenal di dunia KFC, Kolonel Harland Sanders sang pendiri, ia sampai mengalami 100 kali penolakan ketika menjual resep ayam gorengnya.
Tapi Kolonel Harland Sanders tidak pernah berputus asa,
ia bangkit kembali setelah penolakan yang didapat, dan mencoba kembali meracik
resep yang lebih baik agar bisa diterima masyarakat. Hingga diusianya yang
menginjak 70 tahun, akhirnya perjuangan Kolonel Harland Sanders terbayar dengan
banyaknya restoran yang membeli resep ayam gorengnya, dan ia mendapatkan gaji
setiap bulan seumur hidupnya hingga mencapai 5 ribu dolar. (wartaekonomi.co.id, 23/11/18).
Atau jika mengalami hari-hari penuh kesedihan, dihina, dan diremehkan orang, kita boleh sedih seperlunya, tapi setelah itu kita harus bangkit kembali. Seperti kisah ‘amul huzni (tahun kesedihan) Nabi Muhammad Saw yang terjadi pada tahun ke-10 kenabian.
Ketika Abu Thalib paman
Rasulullah yang senantiasa melindungi perjuangan dakwahnya dari hinaan dan
kekejaman kaum kafir Quraisy meninggal dunia, ditambah beberapa bulan kemudian
menyusul sang istri tercinta ummul mukminin Siti Khadijah. Orang kafir Quraisy
semakin menjadi kekejamannya, (www.daily.com, Febuari 2021) tapi
Nabi tetap sabar dan bangkit, tidak sampai putus asa apalagi terpikir untuk
menyusul paman dan istrinya ke Mahakuasa., Nabi Muhammad saw tetap semangat
meneruskan perjuangan dakwah Islam hingga kini Islam tersebar di seluruh dunia.
Adapun jika depresi
karena ditinggalkan dan dikhianati orang yang kita cintai, kita harus ingat
firman Allah, QS Al-Baqarah:216 “Apa yang
menurut kita baik belum tentu baik, dan apa yang menurut kita buruk belum tentu
buruk, Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” Bisa
jadi Allah telah menjauhkan kita dari orang yang jahat, walaupun kita sakit
hati karena dikhianati, tapi itu cara yang terbaik daripada kita terus bersamanya.
Ingatlah dalam firman Allah Swt dalam QS Al-Baqarah:286, “Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.” Apapun yang terjadi dalam hidup kita semuanya sudah yang terbaik yang Allah berikan, Allah sudah tahu kita pasti mampu melewatinya, kita pasti bisa menghadapinya.
Kematian memang kepulangan yang pasti kita nantikan, tapi jangan hanya menunggu untuk segera dijemput apalagi mendahului takdir Tuhan, tapi kita harus mengisinya dengan banyak berbuat kebaikan, mengisi hidup dengan hal yang bermakna, jangan sampai kita menyesal menyia-nyiakan hidup, ingat hidup hanya satu kali.
Ditambah
jika kita pulang tanpa bekal yang cukup, disana kita belum tentu hidup bahagia,
masih ada yang harus kita selesaikan dihadapan Tuhan. Kita mungkin stress,
depresi, bersedih karena hasil yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang kita
harapkan, tapi Allah Swt tidak melihat hasil apa yang kita dapatkan setalah
berusaha keras, tapi melihat bagaimana kita berproses. Mempertahankan hidup
merupakan kewajiban, selagi nyawa masih dikandung badan kita wajib melindungi
diri kita.
Jadi apakah masih ingin
pulang tanpa mempersiapkan bekal? Apalagi kita sedang terpuruk dan putus asa, bukannya
bangkit dan berusaha kembali, malah terbesit keinginan untuk pulang?. Bukankah kita
masih punya kesempatan untuk bangkit lagi dan berusaha yang lebih baik lagi?.
Karena itu mari kita lebih semangat lagi mengejar mimpi, jatuh dan bangkit lagi, dan jangan lupa untuk selalu mendekat dan berdo'a kepada yang Mahakuasa.

ðŸ˜ðŸ˜
BalasHapus